Cerita Seks- Rasti adalah seorang guru Sejarah di salah satu SMU terkenal. Umurnya masih 25 tahun, cerai tanpa anak. Kata orang dia mirip Demi Moore di film Striptease. Tinggi 170, 50 kg, dan 36B. Semua murid-muridnya, terutama yang laki-laki pengin banget melihat tubuh polosnya.
Pada Suatu hari Rasti terpaksa harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya, untuk ulangan susulan. Si Andi harus mengulang karena ia kedapatan menyontek di kelas. Andi juga terkenal karena kekekaran tubuhnya, maklum dia sudah bergulat sejak SD dengan olah raga beladiri, karenanya ia harus menjaga kebugaran tubuhnya.
Bagi Rasti, kedatangan Andi ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Ia juga diam-diam naksir dengan anak itu. Karenanya ia bermaksud memberi anak itu ‘pelajaran’ tambahan di Minggu siang ini.
”Sudah selesai Andi?” Agen Bola Terpercaya
Rasti masuk kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Andi selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal yang diberikannya.
”Hampir bu.”
”Kalau sudah nanti masuk ke ruang tengah ya saya tinggal ke belakang..”
”Iya bu..”
Selang beberapa Menit kemudian.
”Bu Rasti, Saya sudah selesai.”
Andi masuk ke ruang tengah sambil membawa pekerjaannya.
”Ibu dimana?”
”Ada di kamar.. Andi sebentar yach.”
Rasti berusaha membetulkan t-shirtnya. Ia sengaja mencopot BH-nya untuk merangsang muridnya itu. Di balik kaus longgarnya itu bentuk payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul.
Begitu ia keluar, mata Andi nyaris copot karena melotot, melihat tubuh gurunya. Rasti membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya saat ia tampil di muka murid-muridnya.
”Kenapa ayo duduk dulu, Ibu periksa..”
Muka Andi merah karena malu, karena Rasti tersenyum pada saat pandangannya terarah ke buah dadanya.
”Bagus bagus… Kamu bisa gitu kok pakai menyontek segala..?”
”Maaf Bu, hari itu saya lupa untuk belajar..”
”Oo… begitu to? Andi kamu mau menolong saya?”
Rasti merapatkan duduknya di karpet ke tubuh muridnya.
”Apa Ibu?”
Tubuh Andi bergetar ketika tangan gurunya itu merangkul dirinya, sementara tangan Rasti yang satu mengusap-usap Senjatanya.
”Tolong Ibu ya… dan janji jangan bocorkan pada siapa–siapa.”
”Tapi tapi… Saya…”
”Kenapa? Ooo… kamu masih perjaka ya?”
Muka Andi langsung saja merah mendengar perkataan Rasti.
”Iya”
”Nggak apa-apa, Ibu bimbing ya…”
Rasti kemudian duduk di pangkuan Andi. Bibir keduanya kemudian saling berpagutan. Rasti yang agresif karena haus akan kehangatan dan Andi yang menurut saja ketika tubuh hangat gurunya menekan ke dadanya. Ia bisa merasakan puting susu Rasti yang mengeras. Lidah Rasti menjelajahi mulut Andi, mencari lidahnya untuk kemudian saling berpagutan bagai ular.
Setelah puas, Rasti kemudian berdiri di depan muridnya yang masih melongo. Satu demi satu pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos seakan-akan menantang untuk diberi kehangatan oleh perjaka yang juga muridnya ini.
”Lepaskan pakaiannmu Andi.”
Rasti berkata sambil merebahkan dirinya di karpet.
Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya.
”Ahh cepat Andi,” Rasti mendesah tidak sabar.
Andi kemudian berlutut di samping gurunya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pengetahuannya tentang seks hanya didapatnya dari buku dan video saja.
”Andi… letakkan tanganmu di dada Ibu.”
Dengan gemetar Andi meletakkan tangannya di dada Rasti yang turun naik. Tangannya kemudian dibimbing untuk meremas-remas payudara Rasti yang montok itu.
”Oohh… enakk… begitu caranya… remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang..”
Dengan semangat Andi melakukan apa yang gurunya katakan.
”Ibu… Boleh saya hisap susu Ibu?”
Rasti tersenyum mendengar pertanyaan muridnya, yang berkata sambil menunduk, “Boleh… lakukan apa yang kamu suka.”
Tubuh Rasti menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan mulut pemuda itu di susunya. Perasaan yang ia pernah rasakan 3 tahun lalu saat ia masih bersama suaminya.
”Oohhh… jilat terus sayang… ohhh…” Situs Sbobet Terpercaya
Tangan Rasti mendekap erat kepala Andi ke payudaranya.
Andi semakin buas menjilati puting susu gurunya tersebut. Mulutnya tanpa ia sadari menimbulkan bunyi yang nyaring. Hisapan Andi makin keras, bahkan tanpa ia sadari ia gigit-gigit ringan puting gurunya tersebut.
”Hmm… nakal kamu.”
Rasti tersenyum merasakan tingkah muridnya itu.
”Sekarang coba kamu lihat daerah bawah pusar Ibu.”
Andi menurut saja. Duduk di antara kaki Rasti yang membuka lebar. Rasti kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya.
”Coba kamu rasakan.”
Ia membimbing telunjuk Andi memasuki vaginanya.
”Hangat Bu..”
“Bisa kamu rasakan ada semacam pentil…?”
”Iya..”
”Itu yang dinamakan kelentit, itu adalah titik peka cewek juga. Coba kamu gosok-gosok.”
Pelan-pelan jari Andi mengusap-usap clitoris yang mulai menyembul itu.
”Terus… oohh… ya… gosok… gosok… terus… terus… ”
Rasti mengerinjal-gerinjal keenakan ketika clitorisnya digosok-gosok oleh Andi.
”Kalo diginiin nikmat ya Bu?”
Andi tersenyum sambil terus menggosok-gosok jarinya.
”Oohh… Andi… Mmm…”
Tubuh Rini telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.
Tangan Andi semakin berani mempermainkan clitoris gurunya yang makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahanan gurunya akan segera jebol.
”Ooaahh… Anndii…” Tangan Rasti mencengkeram pundak muridnya, sementara tubuhnya menegang dan otot-otot kewanitaannya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yang telah lama tidak dirasakannya.
”Hmm… kamu Jago Banget Andi… Sekarang… coba kamu berbaring…”
Andi menurut saja. Senjatanya segera menegang ketika merasakan tangan lembut gurunya.
”Wah… wahh…. besar sekali…”
Tangan Rasti segera mengusap-usap Senjata yang telah mengeras tersebut.
Segera saja benda panjang dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Rasti. Ia segera menjilati Senjata muridnya itu dengan penuh semangat. Kepala Senjata muridnya itu dihisapnya keras-keras, sehingga Andi merintih keenakan. ”Ahh… enakk… enakk…Bu” Andi tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya untuk semakin menekan Senjatanya makin ke dalam kuluman Rasti. Gerakannya makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Rasti. ”Ooohh Ibu… Ibbuu…” Muncratlah cairan mani Andi di dalam mulut Rasti, dan Rasti dengan segera menjilati cairan itu hingga tuntas. ”Hmm… manis rasanya Andi.” Rasti masih tetap menjilati Senjata muridnya yang masih tegak. ”Sebentar ya aku mau minum dulu.”
Ketika Rasti sedang membelakangi muridnya sambil menenggak es teh dari kulkas. Tiba-tiba ia merasakan seseorang mendekapnya dari belakang.
”Andi… biar Ibu minum dulu.”
”Tidak… nikmati saja ini.”
Andi yang masih tegang berat mendorong Rasti ke kulkas. Gelas yang dipegang Rasti jatuh, untungnya tidak pecah. Tangan Rasti kini menopang tubuhnya ke permukaan pintu kulkas.
”Ibu… sekarang!”
”Ahhkk,” Rasti berteriak, saat Andi menyodokkan Senjatanya dengan keras ke liang vaginanya dari belakang.
Dalam hatinya ia sangat menikmati hal ini, pemuda yang tadinya pasif berubah menjadi liar.
”Andi… enakk… ohh… ohh…” Casino Online
Tubuh Rasti bagai tanpa tenaga menikmati kenikmatan yang tiada taranya. Tangan Andi satu menyangga tubuhnya, sementara yang lain meremas payudaranya. Dan Senjatanya yang keras melumat liang vaginanya.
”Ibu menikmati ini khan,” bisik Andi di telinganya.
”Ahh… hh…” Rasti hanya merintih, setiap merasakan sodokan keras dari belakang.
”Jawab… Ibu,” dengan keras Andi mengulangi sodokannya.
”Ahh… iyaa… Andi… Andi jangann… di dal.. La” belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Rasti telah merasakan cairan hangat di liang vaginanya menyemprot keras.
sudah terlanjur basah ia kemudian menyodokkan keras pinggulnya.
”Uuhgghh,” Senjata Andi yang berlepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang Rasti.
”Ahh…”
Kedua insan itupun tergolek lemas menikmati apa yang baru saja mereka rasakan.
Setelah kejadian dengan Andi itu, Rasti masih sering bertemu dengannya guna mengulangi lagi perbuatan mereka. Namun yang mengganjal hati Rasti adalah jika Andi kemudian membocorkan hal ini ke teman-temannya.
Ketika Rasti berjalan menuju mobilnya seusai sekolah bubar, perhatiannya tertumbuk pada seorang muridnya yang duduk di sepeda motor di samping mobilnya, katakanlah dia Rizal. Ia berbeda dengan Andi, anaknya agak pembuat onar jika di kelas, kekar dan nakal. Hatinya agak tidak enak melihat situasi ini.
”Bu Rasti salam dari Andi,” Rizal melemparkan senyum sambil duduk di sepeda motornya.
”Terima kasih, boleh saya masuk?”
Ia harus berkata begitu karena sepeda motor Rizal menghalangi pintu mobilnya.
”Boleh… boleh Bu saya juga ingin pelajaran tambahan seperti Andi.”
Langkah Rasti terhenti seketika. Namun otaknya masih berfungsi normal, meskupun sempat kaget.
”Kamu kan nilainya bagus, nggak ada masalah kan..” sambil duduk di balik kemudi.
”Ada sedikit sih kalau Ibu nggak bisa, mungkin kepala guru bisa membantu saya, sekaligus melaporkan pelajaran Andi,” Rizal tersenyum penuh kemenangan.
”Apa hubungannya?” Keringat mulai menetes di dahi Rasti.
”Sudahlah kita sama-sama tahu Bu. Saya jamin pasti puas.”
Tanpa menghiraukan omongan muridnya, Rasti langsung menjalankan mobilnya ke rumahnya. Namun ia sempat mengamati bahwa muridnya itu mengikutinya terus hingga ia menikung untuk masuk kompleks perumahan. Setelah mandi air hangat, ia bermaksud menonton TV di ruang tengah. Namun ketika ia hendak duduk, pintu depan diketuk oleh seseorang. Rasti segera menuju pintu itu, ia mengira Andi yang datang. Ternyata ketika dibuka…
”Rizal! Kenapa kamu ngikuutin saya?” Rasti agak jengkel dengan muridnya ini.
”Boleh saya masuk?”
”Tidak!”
”Apa guru-guru perlu tahu rahasiamu?”
”!!” dengan geram ia mempersilakan Rizal masuk.
”Enak ya rumahnya, Bu,” dengan santainya ia duduk di dekat TV.
“Pantas aja Andi senang di sini.”
”Apa hubunganmu dengan Andi?”
“Itu urusan kami berdua.”
Dengan ketus Rasti bertanya, ”Dia teman dekat saya. Tidak ada rahasia di antara kami berdua”
”Jadi artinya…”
Kali ini Rasti benar-benar kehabisan akal. Tidak tahu harus berbuat apa.
”Bu, kalo saya mau melayani Ibu lebih baik dari Andi, mau?”
Rizal bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Rasti.
Rasti masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu.
Tubuhnya panas dingin.
Rasti masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin. Belum sempat ia menjawab, Rizal telah membuka ritsluiting celananya. Dan setelah beberapa saat Senjatanya menyembul dan telah berada di hadapannya.
”Bagaimana Bu, lebih besar dari Andi khan?”
Rizal ternyata lebih agresif dari Andi, dengan satu gerakan meraih kepala Rasti dan memasukkan Senjatanya ke mulut Rasti.
”Mmpfpphh…”
”Ahh yaa… memang Ibu pandai dalam hal ini. Nikmati saja Bu… nikmat kok…”
Rupanya nafsu menguasai diri Rasti, menikmati Senjata yang besar di dalam mulutnya, ia segera mengulumnya bagai permen. Dijilatinya kepala Senjata pemuda itu dengan semangat. Kontan saja Rizal merintih keenakan. ”Aduhh… nikmat sekali Bu oohh…”
Rizal menyodok-nyodokkan Senjatanya ke dalam mulut Rasti, sementara tangannya meremas-remas rambut ibu gurunya itu. Rasti merasakan Senjata yang diisapnya berdenyut-denyut. Rupanya Rizal sudah hendak keluar. ”Ooohh… Ibu enakk… enakk… aahh…”
Cairan mani Rizal muncrat di mulut Rasti, yang segera menelannya. Dijilatinya Senjata yang berlepotan itu hingga bersih. Kemudian ia berdiri. ”Sudahh… sudah selesai kamu bisa pulang…”
Namun Rasti tidak bisa memungkiri perasaannya. Ia menikmati mani Rizal yang manis itu serta membayangkan bagaimana rasanya jika Senjata yang besar itu masuk ke vaginanya.
”Bu, ini belum selesai. Mari ke kamar, akan saya perlihatkan permainan yang sebenarnya.”
”Apa! Beraninya kamu memerintah!”
Namun dalam hatinya ia mau. Karenanya tanpa berkata-kata ia berjalan ke kamarnya, Rizal mengikuti saja.
Setelah ia di dalam, Rasti tetap berdiri membelakangi muridnya itu. Ia mendengar suara pakaian jatuh, dugaannya pasti Rizal sedang mencopoti pakaiannya. Ia pun segera mengikuti jejak Rizal. Namun ketika ia hendak melepaskan kancing dasternya. ”Sini saya teruskan,” ia mendengar Rizal berbisik ke telinganya. Tangan Rizal segera membuka kancing dasternya yang terletak di bagian depan. Kemudian setelah dasternya jatuh ke lantai, tangan itupun meraba-raba payudaranya. Rasti juga merasakan Senjata pemuda itu di antara belahan pantatnya. ”Gilaa… besar amat,” pikirnya. Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos. Senjata Rizal digosok-gosokkan di antara pantatnya, sementara tangan pemuda itu meremasi payudaranya. Ketika jemari Rizal meremas puting susu Rasti, erangan kenikmatan pun keluar. ”Mmm oohh…” Rizal tetap melakukan aksi peremasan itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya melakukan operasi ke vagina Rasti. ”Rizal… aahh… aahh…” Tubuh Rasti menegang saat pentil clitorisnya ditekan-tekan oleh Rizal. ”Enak Bu?” Rizal kembali berbisik di telinga gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu.
Rasti hanya bisa menngerang, mendesah, dan berteriak lirih. Saat usapan, remasan, dan pekerjaan tangan Rizal dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya. Tiba-tiba Rizal mendorong tubuh Rasti agar membungkuk. Kakinya dilebarkan.
”Kata Andi ini posisi yang disukai Ibu.”
”Ahhkk… hmm… hmmpp…” Rasti menjerit, saat Rizal dengan keras menghunjamkan Senjatanya ke liang vaginanya dari belakang.
”Ugghh… innii…. innii….” Rizal mendengus penuh gairah dengan tiap hunjaman Senjatanya ke liang Rasti.
Rastipun berteriak-teriak kenikmatan, saat liang vaginanya yang sempit itu dilebarkan secara cepat.
”Adduuhh… teruss.. teruss Rizal… oohh…”
Kepala ibu guru itu berayun-ayun, terpengaruh oleh sodokan Rizal. Tangan Rizal mencengkeram pundak Rasti, seolah-olah mengarahkan tubuh gurunya itu agar semakin cepat saja menelan Senjatanya.
”Oohh Rasti… Rasti…”
Rasti segera merasakan cairan hangat menyemprot di dalam vaginanya dengan deras.
Matanya terpejam menikmati perasaan yang tidak bisa ia bayangkan.
Rasti masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi bantalnya, dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu vaginanya sangat becek, berlepotan mani Rizal dan cairan Mekinya sendiri. Rizal juga telanjang bulat, ia duduk di tepi tempat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia kemudian duduk mendekat, tangannya meraba-raba liang vagina Rasti, kemudian dipermainkannya pentil kelentit gurunya itu.
”Hmm capek… hhmmm,” bibir Rasti mendesah saat pentilnya dipermainkan. Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi. Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Rizal untuk memainkan clitorisnya.
”Rizz aahh…” Tubuh Rasti bergetar, menggelinjang-gelinjang saat Rizal mempercepat permainan tangannya.
”Bu… balik… Rizal pengin nih.”
”Nakal kamu ahh,” dengan tersenyum nakal, Rasti bangkit dan menungging.
Tangannya memegang kayu dipan tempat tidurnya. Matanya terpejam menanti sodokan Senjata Rizal. Rizal meraih payudara Rasti dari belakang dan mencengkeramnya dengan keras saat ia menyodokkan Senjatanya yang sudah tegang.
”Adduuhh… oww… mmm…” Rasti mengaduh kemudian menggigit bibirnya, saat lubang vaginannya yang telah licin melebar karena desakan Senjata Rizal.
”Bu Rasti nikmat lho vagina Ibu… ketat,” Rizal memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
”Mmm… aahh… ahh… ahhkk…” Rasti tidak bisa bertahan untuk hanya mendesah.
Ia berteriak lirih seiring gerakan Rizal.
Badannya digerakkannya untuk mengimbangi serangan Rizal.
Kenikmatan ia peroleh juga dari remasan muridnya itu.
”Ayoo… aaahh… aahh… Mm.. buat Ibu keluuaa.. rrr lagi…”
Gerakan Rasti makin cepat menerima sodokan Rizal.
Tangan Rizal beralih memegangi tubuh Rasti, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya tidak lagi “doggy style”, melainkan kini Rasti menduduki Senjatanya dengan membelakangi dirinya. Rizal kini telentang di tempat tidur yang acak-acakan dan penuh oleh mani yang mengering.
”Ooww..” Teriakan Rasti terdengar keras saat ia tidak bisa lagi menahan orgasmenya. Tangannya mencengkeram tangan Rizal, kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara Rizal sendiri tetap menusuk-nusukkan Senjatanya ke vagina Rasti yang makin becek.
”Ayoo… makin dalam dalamm…”
“Ahh.. aahh.. aahh..”
Rizalpun mulai berteriak-teriak, ”mau kelluuaarr…”
Rasti sekali lagi memejamkan matanya, saat mani Rizal menyemprot ke dalam liang vaginanya. Rasti kemudian ambruk menindih tubuh Rizal yang basah oleh keringat. Sementara di antara kaki-kaki mereka mengalir cairan hangat hasil kenikmatan mereka.
”Bu Rasti… sungguh luar biasa, coba kalau Andi ada di sini sekarang.”
”Mmm memangnya kamu mau apa?”
Rasti kemudian merebahkan dirinya di samping Rizal.
Tangannya mengusap-usap puting Rizal.
”Kita bisa main bertiga, pasti lebih nikmat..”
Rasti tidak bisa menjawab komentar Rizal, sementara perasaannya dipenuhi kebingungan.
Akhirnya hari kelulusan murid kelas 3 sampai juga. Dengan demikian Rasti harus berpisah dengan kedua murid yang disayanginya, terlebih lagi ketika ia harus pindah ke kota lain untuk menempati pos baru di Kanwil. Karenanya ia memanggil Andi untuk datang ke rumahnya untuk memberitahukan perihal kepindahannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


"Selamat siang Bos ๐
ReplyMohon maaf mengganggu bos ,
apa kabar nih bos kami dari Agen365
buruan gabung bersama kami,aman dan terpercaya
ayuk... daftar, main dan menangkan
Silahkan di add contact kami ya bos :)
Line : agen365
WA : +85587781483
Wechat : agen365
terimakasih bos ditunggu loh bos kedatangannya di web kami kembali bos :)"
"Selamat siang Bos ๐
ReplyMohon maaf mengganggu bos ,
apa kabar nih bos kami dari Agen365
buruan gabung bersama kami,aman dan terpercaya
ayuk... daftar, main dan menangkan
Silahkan di add contact kami ya bos :)
Line : agen365
WA : +85587781483
Wechat : agen365
terimakasih bos ditunggu loh bos kedatangannya di web kami kembali bos :)"